Showing posts with label arsitektur. Show all posts
Showing posts with label arsitektur. Show all posts

Saturday, December 25, 2010

Manusia membutuhkan lingkungan udara ruang yang nyaman (thermal comfort) untuk melakukan aktivitas secara optimal. Dengan adanya lingkungan udara yang nyaman ini manusia akan dapat beraktifitas dengan tenang dan sehat. Keadaan udara pada suatu ruang aktifitas sangat berpengaruh pada kondisi dan keadaan aktifitas itu. Bila dalam suatu ruangan yang panas dan pengap, manusia yang melakukan aktivitas di dalamnya tentu juga akan sangat terganggu dan tidak dapat melakukan aktifitasnya secara baik, dan ia merasa tidak kerasan. Maka kenyamanan dalam ruangan yang menyangkut udara harus terpenuhi yaitu meliputi: temperatur udara, kelembaban udara, pergerakan udara, dan tingkat kebersihan udara.
Untuk mendapatkan kondisi ruangan yang memenuhi thermal comfort atau kondisi yang harus memenuhi persyaratan tertentu sesuai dengan yang kita inginkan, tanpa adanya ketergantungan dengan lingkungan luar, maka digunakan penghawaan buatan (air conditioning). Penghawaan buatan di sini memiliki pengertian bahwa udara dalam ruang dikondisikan berdasarkan beban kalor yang terjadi pada ruangan tersebut.
Agar didapatkan suatu sistim serta kapasitas pendingin yang tepat, maka perlu diketahui besarnya beban kalor pada ruang/bangunan sehingga suhu dan kelembaban udara tetap nyaman. Besar beban kalor yang terjadi ditentukan oleh: hantaran panas radiasi matahari, hantaran panas secara transmisi, hantaran panas ventilasi atau infiltrasi, beban panas intern (manusia dan peralatan elektronik atau mesin).
Dengan memperhatikan hal di atas, maka didalam desain ruang atau bangunan yang menggunakan penghawaan buatan, harus menyertakan pertimbangan-pertimbangan berikut:
- Bentuk cenderung beraturan agar memudahkan dalam perencanaan sistem penghawaannya.
-     Bentuknya diusahakan disejajarkan dengan arah aliran angin
-     Langit-langit/plafon dibuat relatif rendah untuk memperkecil volume ruang.
Agar memberi kondisi yang nyaman secara terus-menerus dalam suatu bangunan, sistem-sistem penghawaan harus mempertahankan keseimbangan antara kondisi-kondisi termal dan atmosfer dalam dan kondisi-kondisi iklim yang terus-menerus berubah di luar ruangan dan di dalam ruangan itu sendiri. Jika suasana panas, sistem harus memberi cukup udara sejuk untuk mengatasi panas yang diperoleh dari luar. Dalam keadaan dingin, ia harus memberi cukup panas untuk menggantikan panas yang hilang.
Kenyamanan termal langsung berhubungan dengan tubuh manusia yang selalu membuang panas yang berlebihan. Dalam keadaan normal pemindahan panas ini terjadi antara tubuh dan udara disekitarnya. Namun demikian tubuh manusia memiliki pertahanan mekanisme alami yang terus-menerus bekerja untuk mempertahankan keseimbangan yang diperlukan antara timbulnya panas dan pembuangan panas yang dihasilkan. Mekanisme-mekanisme ini bekerja untuk mempertahankan suhu tubuh yang normal, dengan mengendalikan jumlah pembuangan panas tersebut. Bila laju kehilangan panas terlalu lambat, kita berkeringat. Keringat tersebut menambah laju kehilangan panas karena penguapan. Jika laju kehilangan panas terlalu cepat, kita mulai menggigil. Hal ini menyebabkan meningkatnya pembangkitan panas guna mengimbangi kehilangan panas.
Salah satu jaringan distribusi penting dalam sebuah bangunan ialah sistem pengadaan udara yaitu sistem pemanasan/pendinginan, ventilasi, dan air conditioning (AC). Tujuan dari sistem pengendalian penghawaan ini adalah memberikan kondisi-kondisi suhu dan suasana yang nyaman, yang dicapai dengan mengolah dan mendistribusikan udara yang disejukkan ke seluruh bangunan. Sebenarnya, pengolahan suhu hanya merupakan salah satu dari pengolahan pada udara sebelum disampaikan kepada para penghuni. Penyesuaian termal mengatur suhu, kelembaban, dan distribusi udara. Penyesuaian atmosfir mengatur kebersihan dan mengendalikan bau-bau.
Kenyamanan Thermal
Kenyamanan thermal adalah suatu kondisi thermal (suhu) yang dirasakan oleh manusia bukan oleh benda, binatang, dan arsitektur, tetapi dikondisikan oleh lingkungan dan benda-benda di sekitar arsitekturnya.
Dalam proses perancangan arsitektur dengan memakai pendekatan iklim, terdapat empat variabel yang dominan, yaitu:
- Iklim
Gambaran iklim harus diketahui dengan baik. Karakteristik tahunan atau harian dan masing-masing data di analisa sehingga dapat diketahui ciri-ciri utama dari iklim setempat. Data-data tersebut meliputi:
- suhu udara (T, derajat Celcius)
- kelembaban relatif (RH)
- radiasi matahari (MRT, derajat Celcius)
- kecepatan angin yang ada (V, m/dt)
- Biologi
Karakter iklim tersebut di atas kemudian dianalisa menurut syarat-syarat kenyamanan bagi manusia sebagai pemakai bangunan. Sehingga dapat diketahui kelakuan iklim tersebut. Selanjutnya akan bermanfaat untuk perancangan bangunan.
- Teknologi
Apabila telah diketahui iklim yang ada dan iklim yang dikehendaki untuk kenyamanan, selanjutnya dengan teknologi yang ada perancangan bangunan dapat diterapkan secara kuantitatif.
Thermal comfort dapat diperoleh dengan cara mengendalikan atau mengatasi hal-hal berikut:
1. Sumber panas (pembakaran karbohidrat dalam makanan, suhu udara, radiasi matahari). Untuk itu harus ada heat transfer (menurunkan atau pertukaran panas) dari tubuh ke lingkungan, dengan cara:
- Konduksi
Misalnya dengan memegang benda yang dingin atau berpindah ke tempat yang lebih dingin. Penurunan panas yang terjadi sangat kecil.
- Konveksi
Pertukaran udara melalui fluida bergerak. Penurunan panas yang terjadi 40%. Misalnya, saat kepanasan kita keluar untuk mencari udara segar atau fluida bergerak.
- Radiasi
Penurunan panas yang terjadi 40%. Radiasi matahari diatasi dengan menjauhi radiasi tersebut, atau dengan mengurangi makan, sebab makanan menaikkan suhu tubuh.
- Evaporasi
Memperbanyak penguapan. Penurunan panas 20% (kipas-kipas untuk mempercepat evaporasi).
2. Kelembaban
Harus mengkondisikan atau mengendalikan kelembaban yang berasal dari:
- Keringat - Benda-benda
- Sumber kelembaban - Sumber air
- Tanaman
Teknologinya dengan memakai AC, mengatur kelembaban supaya sesuai dengan yang diinginkan.
3. Angin
Terjadi angin karena adanya beda tekanan:
- Gaya angin (perbedaan tekanan udara)
- Gaya suhu (perbedaan suhu udara)
Gaya angin lebih besar daripada gaya suhu.
4. Radiasi Panas Sumber:
- Sinar matahari langsung dan tak langsung (pemantulan dan konduksi)
- Pembakaran
Keterangan:
1. Cahaya sinar langsung
2. Cahaya yang menembus
3. Radiasi tidak langsung
4. Sinar memanaskan udara di sekitar atap, sehingga panas-nya menembus bangunan
5. Panas dan tanah
Hal tersebut harus dikendalikan untuk meningkatkan comfort salah satunya adalah dengan teknologi passive cooling melalui:
• Penambahan shading untuk mengatasi sinar langsung
• Insulasi panas untuk radiasi yang menembus
• Permukaan sebagai diffuser untuk radiasi tidak langsung
• Vegetasi, atap dengan ventilasi untuk konveksi
• Untuk permukaan tanah yang tidak menyerap panas dipakai sistem lantai panggung (mengatasi radiasi dari tanah)
             
Setelah mengenal pembahasan tentang iklim dan panas saya akan memberikan contoh dari obyek kasus. Obyek yang saya pilih adalah Office Alaya yang terletak di kawasan samarinda, Kalimantan.


            
Pada bangunan ini mempunyai banyak bukaan pada tiap-tiap Sisinya yang berguna untuk mengatur sirkulasi udara didalam bangunan dan mengatur intensitas cahaya dalam bangunan. Gubahan massa bangunan marketing office alaya berupa permainan bidang. Solid-void yang saling menopang dengan sebuah kanopi utama yang menaungi outdoor café pada lantai atas sehingga memberikan kesan dinamis massa bangunan secara keseluruhan. Penggunaan batu alam pada bidang-bidang solid dimaksudkan untuk memberikan keselarasan dengan lingkungan sekitar yang bebatuan. Sedangkan pada bidang-bidang void yang sebagian besar berupa fungsi public digunakan material transparan selebar mungkinuntuk memperoleh view kota samarinda secara maksimal. Alaya yang artinya adalah rumah diidentifikasikan pada marketing office melalui symbol huruf “A” pada struktur penopang dan kanopinyayang menyatu membentuk identitas bagian kawasan alaya dan sekaligus sebagai landmark kota samarinda di masa mendatang.
 Penempatan site juga dipengaruhi oleh datangnya arah angin sehingga mengakibatkan udara panas yang terkena bangunan dapat menyebar ke sekitar bangunan dan bangunan tidak menjadi panas. Selain itu pada bangunan ini juga terdapat banyak ventilasi .
 Ventilasi alami dipakai untuk memanfaatkan potensi di alam yang membantu mencapai kenyamanan termal. Ventilasi alami akan sangat bergantung pada kualitas udara lingkungan, sehingga udara lingkungan yang sejuk dan sehat menjadi modal utama keberhasilan ventilasi alami.
Untuk mendapatkan kenyamanan termal dengan pengkondisian alami dapat dilakukan dengan

1. Sumbu panjang bangunan (orientasi bangunan), sumbu panjang bangunan setidaknya sejajar dengan sumbu timur dan barat (bersudut 5 derajat dari sumbu timur barat). Hal ini agar bukaan yang ada menghadap utara dan selatan. Penetrasi sinar matahari langsung juga dapat diminimalkan karena sisi terpendek yang berhadapan dengan matahari timur dan barat.


2. Tidak adanya material keras di sekeliling bangunan. Perlu diingat material di sekeliling bangunan akan menyerap panas. Halaman yang ditanami vegetasi pohon dan rumput akan memanfaatkan panas untuk proses asimulasi sehingga akan menambah sejuk udara sekeliling. Hindari pemakainan beton, aspal dan paving block di sekeliling bangunan.

3. Bangunan sedapat mungkin ditengah lahan atau memungkinkan mendapatkan hembusan angin pada semua sisi untuk membantu menyejukkan permukaan bangunan.

4. Usahakan ventilasi berlangsung 24 jam. Posisi jendela pada bukaan utara dan selatan. Pada malam hari perlu kasa nyamuk karena serngga menyukai cahaya terang dari dalam rumah. Hindari bangunan berdenah rumit, karena partisi pembatas akan menghambat aliran udara. Lubang bukaan diusahakan tidak hanya satu sisi teteapi 2 sisi bangunan sehingga tercipta ventilasi silang. (cross ventilation)

5. Teritisan pada bangunan sangat diperlukan. Idealnya panjang tritisan pada keempat sisi rumah berbeda karena berhubungan dengan panjang pembayangan pada bukaan dinding (jendela) tidak sama kada keempat sisi. Selain berfungsi untuk pembayangan, tritisan juga bermanfaat untuk menghindari tampias jika musin penghujan. Tritisan digunakan untuk melindungi bukaan. Pelindung ini dapat berupa pohon, tirai untuk menghindari sinar matahari langsung.

6. Dinding juga memerlukan perlindungan dari sinar matahari langsung. Dinding yang panas akan merambat masuk ke dalam ruangan sehingga ruangan menjadi ikut hangat. Untuk itu dapat dipakai teritisan untuk melindungi dinding. Atau dengan menggunakan selasar untuk melindungi dinding.
7. Langit-langit juga bermanfaat untuk mencegah panas masuk melalui atap ke dalam ruangan. Radiasi dari atasp dapat dicegah dengan langit-langit. Untuk mencitakan ventilasi alami yang baik, sebuah ruangan harus mempunyai ketinggian langit-langit minimal 3 m dari lantai.

8. Volume ruangan juga berpengaruh pada kenyamana termal. Volume yang besar dapat membantu mengatasi kesejukan. Efek volume sebenarnya menerapkan prinsip bahwa “Volume udara yang lebih besar akan menjadi panas lebih lama apabila disbanding dengan ruangan yang bervolume lebih kecil” Hal ini diterapkanpada bangunan colonial yang mempunyai ruangan yang besar, jendela yang lebar dan langit-langit yang tinggi diatas 4 m.

9. Usahakan ada 3 lubang ventilasi yang berbatasan dengan dinding luar yaitu : Lubang atas (untuk ventilasi atas dengan udara hangat yang ringan), lubang tengan (jendela, untuk angin yang mengenai tubuh) dan lubang bawah untuk melepaskan udara lembab yang berat.

10. Jika memungkinkan, angkatlah lantai bangunan minimal 50 cm dari tanah/ halaman untuk memudahkan udara lembab keluar dari bangunan. Perlu diingat kondisi Indonesia masuk kategori iklim tropis lemban dengan kelembaban 95-99%.

11. Hindari pemakaian karpet dari kain maupunkarpet plastic. Babut akan menjadi sarang debu dan kutu sedangkan karpet plastic akan menjebak udara, menjadi lembab dan akan menjadi sarang jamur. Akan meimbulkan bau tidak sedap dan akan merangsang bersin bagi yang alergi.
Diposkan oleh sonny

Monday, March 1, 2010

SIMBOL DAN ARSITEKTUR

Isu simbol
Karya arsitektur merupakan suatu cipta manusia dari suatu kebutuhan ruang untuk mewadahi aktivitas dalam kehidupan. Sehingga tiap perubahan dalam tatanan masyarakat juga memberikan dampak pada bentukan arsitektur yang tercipta. Suatu isu dalam suatu masyarakat dapat menjadi suatu latar belakang dalam bentukan arsitektur yang terjadi. Dalam kedepannya kita diharapkan dapat mengungkapkan isu apa saja yang telah melatarbelakangi suatu bentukan dalam arsitektur. Hal ini dilakukan karena peristiwa materialisasi tidak banyak berperan dari pada peristiwa penandaan ataupun penyimbolan.
Penandaan ini merupakan suatu isu dari masyarakat yang sejak dahulu sudah ada atau disebut juga dengan isu kontemporer. Isu ini merupakan suatu isu yang umumnya muncul dari pernyataan masyarakat dan bukan dari arsitek. Salah satu isu kontemporer yang dikupas disini adalah ”isu simbol” yang merupakan suatu bentuk yang mewakili bentukan yang lain. Simbol disini dimaksudkan pemaknaan dari suatu benda, konsep, atau peristiwa yang membawa dampak pada bentukan arsitektur. Ada berbagai macam cara dalam melihat isu simbol dari bentukan arsitektur. Misalkan dengan meminjam pengetahuan bahasa. Lalu mencoba menganalogikannya ke dalam arsitektur, dimana sebagian sebagian besar telaah ini kadang lebih banyak berbicara tentang ilmu bahasa itu sendiri dari pada membahas pengetahuan arsitektur.
Telaah disini adalah mencoba mengaitkan simbol dengan klasifikasi. Klasifikasi sendiri adalah suatu cara sistematis yang mengelompokkan sesuatu ke dalam suatu kelas-kelas. Klasifikasi digunakan sebagai alat untuk membaca simbol yang melekat dalam bentukan arsitektur. Sehingga cara melihat ini diharapkan akan lebih fokus pada pengetahuan tentang bentukan arsitektur itu sendiri.


Materialisasi simbol
Pada zaman purba manusia purba menggunakan gua sebagai tempat berlindung baik dari hujan, badai maupun binatang buas. Ketika manusia purba menemukan gua sebagai tempat berlindung mereka menggunakan komunikasi lisan dan juga komunikasi visual. Melalui komunikasi visual inilah suatu tanda tercipta dan pada akhirnya menjadi sebuah ”icon”. Pada akhirnya manusia mulai mengenal methapor, sehingga icon tersebut menjadi sebuah simbol. Simbol timbul dari suatu tatanan akan tanda. Suatu sistem tanda, berasal dari keinginan kuat manusia untuk melakukan sebuah komunikasi di dalam lingkungannya.
Berdasarkan pada dampak yang timbul dari bentukan yang terjadi, kita dapat melakukan penelusuran kembali mengenai isu simbol yang dominan dan mempengaruhi terjadinya sebuah bentukan tersebut. Selain sebagai kebutuhan akan suatu kegunaan hasil karya arsitektur juga dapat merupakan suatu alat komunikasi. Jika percakapan menggunakan bahasa lisan, hasil karya arsitektur juga merupakan bahasa yang berupa bahasa bentuk.

Jenis konstruk simbol
Makna dari suatu simbol, dapat dilihat berdasarkan jenis ”construct” atau gagasan yang mendasari timbulnya simbol tersebut. Cara yang dilakukan disini adalah dengan membuat klasifikasi, mengamari bentukan yang terjadi, kemudian menguraikan isu simbol apa yang melatarbelakangi bentukan tersebut. Berikut ini diuraikan beberapa isu simbol yang mewakili pokok-pokok seperti : pertama, bentukan fisik, kedua, konsepsi, ketiga, peristiwa.
Pertama, simbol yang mewakili bentukan fisik. Penggunaan pohon beringin pada alun-alun kota di pulau jawa, dilatar belakangi olehbentuk fisik dari puhon itu sendiri yang seolah-olah berupa payng besar untuk berteduh dan dianggap sebagai pengayom. Sehingga bangunan pemerintahan yang biasanya berada di sekitar alun-alun dianggap dapat mengayomi masyarakatnya.
Kedua, simbol yang mewakili suatu konsep. Bentukan kampung dan kota tradisional di Indonesia, umumnya dipengaruhi oleh simbol konsepsi makna arah yang sangat disakralkan. Sedangkan tata bangunan tradisional umumnya dipengaruhi oleh ”simbol konsepsi modul sakral” dimana aturan hitungan dan hirarki dapat terbaca jelas pada bentukan bangunan rumah kudus. Menurut buku Arsitektur Tradisional Rumah Adat Kudus, rumah tersebut berbentuk "Joglo Pencu" yang berdiri di atas landasan lima trap yang disebut sebagai "bancik kapisan" (trap terbawah), lalu bancik kapindo, bancik katelu, jogan jogo satru (ruang lantai depan) dan jogan lebet (trap lantai ruang dalam). Maksudnya adalah agar pemilik rumah selalu taat melakukan lima rukun Islam.
Adapun kerangka bangunan terdiri dari Soko Guru berupa empat tiang utama (sebagai bagian dari Joglo) dan Soko Geder (satu tiang). Diatas soko guru terdapat pengeret tumpang songo/tumpang sembilan (tidak harus sembilan, bisa juga hanya tumpang telu (tumpang tiga), disesuaikan dengan kemampuan pemilik rumah) sebagai tumpuan konstruksi atapnya. Konstruksi atap rumah adat menunjukkan tingkat ekonomi dari pemiliknya, karena biaya pembuatan atap adalah paling mahal daripada bagian rumah lainnya. Biaya mahal tersebut disebabkan karena kesempurnaan motif-motifnya dan gaya ukirannya serta faktor kesulitan dalam pembuatannya.
Atap model pencunya, dahulunya dibuat dari rumbia (semacam daun palem) tetapi kemudian lebih banyak dibuat dari genteng. Genteng Kudus sering mempunyai motif khusus tumbuh-tumbuhan, dan terdapat model genteng gajah (dengan ornamen gajah) di atas wuwungan (bagian paling atas dari genting) dan genteng raja yang bercorak sangat indah.
Ruang dalam (jogan lebet) terdiri dari beberapa ruang seperti ruang keluarga terletak tepat di bawah joglo, kemudian kamar-kamar untuk tidur dan gedongan sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka dan kekayaan. Gedongan terletak di antara ruang dalam dan pawon (dapur) yang berada di samping kiri atau kanan rumah. Pawon ini selain untuk kegiatan memasak dan ruang makan, juga dimanfaatkan untuk tempat kegiatan keluarga, seperti pembuatan produk konveksi dan industri rumah tangga lainnya. Di sebelah depan pawon ini tepatnya di bagian tepi halaman terdapat sumur lengkap dengan kamar mandi.
Pintu-pintu pada rumah adat Kudus ada beberapa tipe. Ada yang terdiri dari satu daun pintu, dua daun pintu dan pintu sorong. Satu daun pintu kebanyakan untuk di dapur (pawon) , dua daun pintu untuk di gebyok dan pintu sorong ada di depan.
Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa rumah adat Kudus selalu dibangun menghadap ke arah Selatan yang konon penuh dengan perlambang filosofi dalam membangun rumah tinggal dan berdasarkan perhitungan rasional hukum alam (falak).
Ketiga, simbol peristiwa. Pada simbol yang dilatar belakangi oleh suatu peristiwa dapat di telusuri lewat terciptanya tipe bangunan seperti ’duck & decorated shed’ yang merupakan daya tarik Las Vegas. Terciptanya tipe bangunan ini dilatarbelakangi isu peristiwa kontemporer mengenai ”kebebasan peraturan”.

Kuantitas simbol
Bentukan arsitektur yang tercipta dapat saja menyandang hanya satu simbol atau bahkan banyak simbol di dalamnya. Pertama, bentukan dengan satu simbol yaitu terciptanya pagar yang dilatar belakangi oleh isu simbol yang merupakan batasan. Setiap individu ataupun suatu kelompok selalu berusaha menciptakan batas pada aktivitasnya.
Kedua, bentukan dengan dua simbol yaitu gerbang. Karena gerbang dilatar belakangi oleh isu dari simbol batasan dan juga enterance. Selain sebagai batas dari wilayah tertentu gerbang juga dimaksudkan sebagai area ”selamat datang” atau sebagai tempat mobilitas pengunjung.
Ketiga, bentukan dengan multi simbol seperti bentuk dari keraton solo dan rumah adat kudus, yang memiliki berbagai macam simbol mulai dari pagar, penataan ruang, jumlah tiang, bentuk atap, tata letak bangunan, arah hadap bangunan, dan lain sebagainya.

Kualitas simbol
Isu simbol tidak selalu membawa dampak positif bagi bentukan arsitektur yang terjadi. Kualitas isu simbol dapat juga menimbulkan dampak yang negatif bagi bentukan arsitektur yang terjadi. Hal ini disebabkan isu simbol palsu, yang justru membawa dampak negatif pada bentukan arsitektur. Terciptannya bangunan-bangunan dengan atap gedung sate di jawa barat, dimana fungsinya dapat bermacam-macam, atau bangunan-bangunan dengan atap joglo di jawa tengah, dilatar belakangi oleh isu ”simbol peristiwa adanya konstruksi”. Isu ini juga membawa dampak negatif pada bentukan arsitektur yaitu kecenderungan univalensi atau uniformisasi.
Diposkan oleh sonny

Monday, February 15, 2010


Sejarah Feng shui
Dewasa ini ilmu Feng Shui (mandarin) / Hong Sui (dalam bahasa hokkian) sepertinya telah menjadi buah bibir yang begitu semarak dibicarakan orang. Seminar Hong Sui yang digelar dari hotel ke hotel dengan pembicara para pakar lokal maupun yang sengaja didatangkan dari luar negeri, peliputan media cetak elektronik - yang juga berlomba mengangkat Hong Sui ke permukaan dalam rangka menaikan oplah / rating - sungguh semua itu menjadikan Hong Sui sebagai primadona yang banyak diminati orang.

Berbicara soal asal usul Hong Sui, tak bisa tidak, haruslah membicarakan I Ching (Ya Keng) terlebih dahulu. Karena Hong Sui merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari I Ching / Ya Keng, yaitu sebuah Kitab Kuno China yang sangat termashyur, yang berisi tentang pelajaran Hakekat Perubahan dan dewasa ini telah banyak dialihbahasakan ke berbagai bahasa mancanegara. Kombinasi Pergerakan Pa Kua / Pat Kwa (Delapan Trigram), Perpaduan Yin & Yang serta transformasi Wu Xing / Ngo Heng (Lima Elemen) merupakan komponen inti yang dipakai dan dikembangkan sedemikian rupa untuk bisa mendalami filsafat I Ching / Ya Keng dan semua komponennya itulah yang juga menjadi bagian mendasar perhitungan Feng Shui / Hong Sui.
Penerapan Feng Shui
1. Aliran Bentuk

Berdasarkan pada aliran bentuk, konsep dasar feng shui berkaitan dengan Chi dan posisi binatang langit pada landscape. Chi adalah hawa atau energi yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan. Ada tiga jenis bentuk Chi, yaitu : Chi yang bersirkulasi di udara, Chi yang bersirkulasi di tanah, dan Ch’i yang bersirkulasi dalam tubuh kita. Ada empat binatang langit yang mempengaruhi landscape di sekitar kita, yaitu : naga hijau di bagian kiri rumah, macan putih di bagian kanan rumah, phoenix merah di bagian depan rumah, dan kura-kura hitam di bagian belakang rumah. Bagian-bagian ini dilihat dari arah keluar dari pintu utama rumah. Berdasarkan kedudukan binatang langit, maka feng shui yang baik pada landscape adalah sebelah kiri rumah lebih tinggi, pintu utama menghadap ruang terbuka, dan bagian belakang rumah terdapat pendukung yang kuat dapat berupa dinding yang tinggi maupun gedung bertingkat. Akan lebih baik lagi apabila di bagian depan rumah ada aliran air yang mengalir, atau pada aliran bentuk disebut dengan naga air.
Selain itu, kondisi di sekitar kita juga berpengaruh terhadap feng shui rumah tinggal antara lain :

1. Jalan

Di dalam feng shui, jalan dianggap sebagai aliran air, karena laju kendaraan dianggap sebagai laju aliran sungai. Jalan yang mengelilingi rumah seperti jerat akan merugikan pemilik rumah. Jalan yang berkelok dan berkontur sangat baik dalam membawa aliran chi. Akan tetapi, rumah tidak boleh berada pada kelokan, karena chi yang mengalir dalam jalan akan membelah rumah seperti pisau. Rumah yang berada di antara dua jalan akan tergencet. Jalanan yang lurus mengarah ke rumah akan membawa sha chi yang merugikan. Persimpangan jalan T harus dihindari apalagi jika jalan tersebut terlalu curam. Jika terpaksa berhadapan dengan persimpangan jalan T maka dapat ditanam perdu dan pohon untuk memotong aliran sha chi yang masuk ke rumah.

2. Sungai atau Saluran air

Sungai yang aliran airnya tidak kuat dan berliku-liku di dekat rumah akan membawa aliran chi yang mengandung kesempatan dan kemakmuran. Tetapi perlu diperhatikan kebersihan airnya, karena air yang kotor dianggap menodai chi dan tidak menguntungkan.
Saluran air berhubungan dengan keuangan dan kesehatan pencernaan. Saluran air sebaiknya tidak mengalir ke arah pintu utama, tetapi langsung mengalir ke belakang rumah. Jika terpaksa karena keterbatasan lahan saluran air tersebut ditutup dengan penutup saluran. Selokan pembuangan air kotor hendaknya tertutup atau dapat ditutupi dengan tanaman di sekelilingnya.

3. Posisi Rumah

Posisi rumah berkaitan dengan bangunan yang ada di sekitarnya. Rumah sebaiknya tidak berdekatan dengan pemberhentian bis, tempat ibadah, rumah sakit, kuburan. Karena tempat-tempat tersebut menghasilkan chi yang merugikan. Lebih baik jika rumah menghadap ke taman bermain atau tempat terbuka terkait dengan naga air.
Letak rumah di tebing atau di atas bukit yang terisolasi kurang menguntungkan karena menyimpan berbagai kekuatan berbahaya yang tidak terlihat, dan sheng chi mudah tersebar cepat. Rumah yang berdekatan dengan laut juga perlu diperhatikan kondisi sekitarnya, sebab jika tidak terdapat elemen pendukung akan merugikan. Elemen pendukung itu dapat berupa bukit. Rumah di atas bukit dengan pemandangan laut sangat menguntungkan.
4. Struktur Sekitar Rumah
Struktur di sekitar rumah yang kurang menguntungkan, antara lain : antena televisi tetangga yang dianggap sebagai benda tajam, bentuk atap segitiga yang mengarah ke rumah, tiang-tiang (tiang listrik, tiang telepon, tiang lampu dan tiang iklan) di pinggir jalan, dan rambu-rambu lalu lintas. Untuk menghindari struktur yang kurang menguntungkan di sekitar rumah, dapat dilakukan pencegahan dengan cara menempatkan pepohonan pada arah tembak struktur tersebut, dan juga dapat digunakan tirai untuk menyaring sha chi yang masuk melalui jendela dan pintu.

5. Bentuk Rumah

Bentuk rumah yang terbaik adalah persegi panjang dan bujur sangkar. Jika menginginkan bentuk yang tidak berarturan atau desain yang modern, maka perlu diperhatikan aliran chi yang masuk ke dalam rumah tidak terganggu, dan dihindari adanya sudut yang hilang dengan memasang cermin pada sudut tersebut. Ketinggian rumah sebaiknya mempertimbangkan bangunan yang ada di sekitarnya, karena feng shui itu menyelaraskan dengan keadaan lingkungan. Pemakaian pilar sebagai struktur pendukung di bawah rumah seperti pada rumah gadang tidak menguntungkan dimana rumah menjadi labil, karena tidak berdiri kokoh di atas tanah solid.
Di dalam penerapan interior terdapat satu hal yang tidak dapat kita abaikan terkait dengan feng shui, yaitu : warna. Pengaruh warna dalam penjabaran ilmu feng shui sangat penting dan kompleks sebab perhitungannya dapat mempengaruhi chi. Di dalam feng shui warna dinilai : mengandung energi kekuatan dan getaran, mencerminkan sifat dan karakter magnetik alam semesta, mempengaruhi perilaku emosi seseorang, dan mempunyai interaksi dengan kehidupan. Elemen warna dalam feng shui digunakan untuk : peningkatan, penyelarasan, pembenahan, dan pengobatan. Warna berhubungan dengan lima unsur yang diperoleh atau didapatkan dari tanggal kelahiran masing-masing, dimana masing-masing warna memiliki sifat yang berbeda-beda dan mendukung unsur yang berbeda pula.


Penataan Interior dalam sebuah hunian sesuai Fengshui
Penataan Ruang Tamu

Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat menata ruang tamu :

· Kursi di ruang tamu harus mempunyai sandaran tangan dan punggung.

· Pengaturan kursi di ruang tamu membentuk segi empat, bukan bentuk ’L’

· Perapian harus diletakkan pada dinding sebelah selatan, jangan di sudut barat laut.

· Di sudut tenggara ruang tamu, letakkan vegetasi hijau.

· Dinding ruang tamu dicat warna cerah (merah atau kuning).

· Audio system (televisi dan tape) diletakkan di ruang tamu untuk menghidupkan aktivitas.

· Foto semua anggota keluarga diletakkan di ruang tamu.

· Ruang tamu seharusnya mempunyai satu dinding solid tanpa jendela atau pintu.


· Jendela diletakkan di timur, tenggara atau selatan untuk keberuntungan.

· Meja kotak atau lingkaran diletakkan di tengah-tengah ruang tamu.

· Cermin hias diletakkan di sebelah perapian untuk merefleksikan chi di sekitar ruangan.

· Ruang tamu harus bersih dari debu serta juga agar selalu bernuansa hangat, nyaman dengan ornamen panjang.


Penataan Ruang Tidur

Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat menata ruang tidur :

· Balok yang menggantung dapat memberikan energi buruk pada orang yang tidur di bawahnya dan menggantung klintingan dapat membantu mengurangi efek tersebut.

· Jangan menaruh cermin di seberang ranjang.

· Ranjang diletakkan pada sudut diagonal berlawanan dengan pintu.

· Jangan tidur dengan kepala atau kaki menunjuk ke arah pintu.

· Pintu kamar tidur jangan menghadap pintu toilet. Apabila terlanjur gantunglah klintingan diantara kedua ruang tersebut.


· Ranjang harus mempunyai kepala yang solid, jangan dibiarkan terbuka.

· Kepala ranjang dipastikan menempel dengan dinding.

· Jangan tidur menghadap pintu kamar.

· Pencahayaan harus redup dan soft.


· Kamar didekor dengan warna Yin gelap (hijau, biru, atau abu-abu) untuk ketenangan.

· Gambar binatang buas atau lukisan gambar air jangan digantungkan di dalam kamar.

· Letak ranjang di bawah jendela harus dihindari karena hal ini dapat merusak energi di sekitar orang yang tidur di atas ranjang.

· Meja rias jangan berhadapan dengan ranjang

· Televisi jangan diletakkan menghadap ranjang.

· Jika elemen Anda api, warna kayu yang cerah dengan bentuk corak untuk kepala ranjang.

· Jika elemen Anda kayu, bentuk kotak dengan material kayu cocok untuk kepala ranjang.

· Jika elemen Anda logam, warna emas atau putih dari material besi cocok untuk kepala ranjang.

· Jika elemen Anda air, warna biru atau hijau dengan bentuk kurva cocok untuk kepala ranjang.

· Jika elemen Anda tanah, warna tanah (netral) dari bahan yang juga alami cocok untuk kepala ranjang.

· Lampu meja di samping ranjang lebih baik daripada lampu diatas tempat tidur pada saat kita tidur.

· Lokasi terbaik untuk kamar tidur adalah sebelah timur, tenggara, barat, barat laut, dan utara.

· Lokasi terbaik untuk kamar tidur anak adalah timur, tenggara, dan barat.




Penataan Kamar Mandi

Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat menata kamar mandi :

· Pastikan kita dapat melihat pintu kamar mandi dari bathub atau tempat cuci tangan, bila tidak gunakan kaca.

· Hindari closetyang menghadap pintu, gunakan klintingan untuk bunyi-bunyian.

· Letakkan barang-barang di kamar mandi dalam sebuah lemari, jangan dibiarkan berantakan.

· Lokasi terbaik untuk kamar mandi adalah timur dan tenggara.


· Gunakan lampu (pencahayaan alami) di kamar mandi.

· Letakkan tanaman hijau di dalam kamar mandi untuk menjaga ruangan agar tetap segar sekaligus meresap air.

· Gunakan bahan bangunan yang alami untuk lantai kamar mandi.


Penataan Dapur

Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat menata dapur :

· Jangan menaruh kompor di sebelah tempat cuci piring atau kulkas (tabrakan antara elemen air dan api).

· Letakkan lampu di sekitar dapur untuk menghindari sudut-sudut gelap.

· Hindari sarapan di dapur karena terlalu banyak energi Yang.

· Letak terbaik untuk dapur adalah selatan, tenggara, timur atau utara.

· Hindari pintu belakang yang segaris dengan pintu dapur.

· Letak pintu kulkas tidak menghadap pintu dapur.

· Timur adalah lokasi terbaik untuk makan pagi.



Penataan Ruang Kerja

Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat menata ruang kerja :

· Untuk keberuntungan bisnis, kursi kantor harus menghadap jendela selatan.

· Jangan ada elemen air seperti sungai, atau air terjun di belakang kantor, karena akan membuat bisnis kering.

· Posisi kantor jangan diletakkan di sudut kuldesak (jalan buntu) karena chi akan terhalangi.

· Kursi kerja harus mempunyai sandaran kepala dan tangan.

· Meja kerja dan kursi diletakkan dalam posisi membelakangi dinding solid.

· Lukisan atau foto gunung diletakkan di dinding belakang.

· Jangan duduk membelakangi jendela.

· Jangan meletakkan rak buku di belakang karena melambangkan pisau yang memotong.

· Lokasi terbaik untuk kerja adalah berhadapan dengan pintu pada garis diagonal.

· Tanaman adalah sumber energi yang terbaik di dalam ruang kantor.
· Area di depan meja kerja dibiarkan dalam keadaan kosong.

· Bunga atau tanaman diletakkan di arah timur dari sisi meja kerja untuk keberuntungan finansial.

· Pemberat kertas dari kristal diletakkan di sudut tenggara meja untuk hubungan yang harmonis.

· Lampu meja diletakkan pada sudutselatan meja untuk reputasi (image) yang baik.

· Komputer diletakkan pada posisi barat meja.

· Cahaya matahari yang terlalu terang ke dalam kantor menghadap barat dihalangi dengan gorden.

· Meja kerja harus menghadap pintu, jangan duduk membelakangi pintu.

· Jangan meletakkan ruang kerja di lokasi yang kaku seperti di bawah tangga.

· Timur, tenggara, selatan, barat laut adalah lokasi terbaik untuk ruang kerja.


Penataan Ruang Makan

Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat menata ruang makan :

· Kaca di ruang makan mengindikasikan makanan yang berlimpah dari keluarga yang berlimpah juga.

· Kursi makan yang menghadap pintu dapat disebut menghormati tamu.

· Jangan menaruh meja makan kotak yang panjang dan ramping, karena secara fengshui tidak baik.

· Jangan meletakkan kursi makan pada posisi mepet dinding. Jika terpaksa, letakkan meja kecil di antaranya.

· Ruang makan jangan dekat pintu masuk rumah, karena orang hanya ingin makan dan pergi.

· Lokasi terbaik untuk ruang makan adalah di area timur, tenggara, barat, dan barat laut.
· Timur adalah posisi terbaik untuk sarapan.

· Ruang makan yang menghadap tenggara adalah area terbaik untuk komunikasi.

· Ruang makan menghadap barat mengesankan entertainment dari keromantisan.

· Lukisan pemandangan alam atau buah-buahan diletakkan pada dinding ruang makan.

· Hijau, krem, dan warna merah muda yang hangat adalah warna terbaik untuk ruang makan.

· Meja kotak atau bulat adalah Yang dan akan memunculkan diskusi yang berenergi.

· Meja oval atau persegi adalah Yin dan akan membuat suasana yang relaks.





Diposkan oleh sonny